Jumat, 30 September 2011

Sakit Mata Part I

Rasanya mataku kian hari kian ada yang aneh. Aku tak tahu apa yang membuatnya menjadi begini. Apa yang aku lihat menjadi indah, apa pun itu. Dan hari ini aku melihat lelaki yang dengan baik ku kenali sebagai seorang yang berbeda dari biasanya. Dia terlihat sempuran. Walaupun aku tahu tak ada yang sempurana di dunia ini. Entah memang benar seperti itu kenyataannya atau hanya mataku yang terlalu banyak menghasilkan efek warna cerah.
Jika memang mataku sekarang ini memiliki kelainan, aku tak akan memeriksakannya ke dokter. Aku tak akan membiarkan seorang pun menyembuhkan sakit mataku. Dan aku akan berharap mataku akan sakit terus. Sungguh. Kau. Memang kau yang membuatku seperti ini. Dan aku hanya bisa berucap terima kasih.

Rabu, 16 Februari 2011

Mungkinkah Kau Kembali

Ayah,
tengoklah ke belakang
lihatlah ke kursi itu
seseorang telah menunggumu
dua jam dia telah menunggumu

Ayah,
hampirilah dia
mungkin saja
dia sangat ingin bertemu denganmu
mungkin saja itu sangat penting

Tapi ayah,
aku tak tahu kalau dia adalah Izrail
sungguh aku tak tahu
dan mungkinkah kau
sebentar saja kembali untukku?

Selasa, 15 Februari 2011

Sinarilah Aku

Matahari,
sinarilah aku
agar aku bisa terus bergerak
mendekati bintangku
menuju planet-planet lain yang selalu berotasi
mengambil asteroid yang melayang-layang
menghentikan laju komet
hingga aku sampai ke galaksi lain

Matahari,
sinarilah aku
agar aku juga bisa menyinari sekitarku
menebarkan kehangatan
menebarkan energi positif
kepada setiap insan

Matahari,
sinarilah aku

Selasa, 11 Januari 2011

TEKA-TEKI MALAIKAT

Gadis kecil di bangsal 15 itu tak henti-hentinya mengamatiku lewat daun pintu di depannya. Sepertinya ada sesuatu yang lain dalam diriku. Kutengok sebentar sepatu, celana dan kaos yang kukenakan. Tak ada yang aneh. Semakin lama, semakin lekat dia memandangiku. Aku yang berdiri di depan pintu bangsal 16 semakin risih dibuatnya. Kualihkan pandanganku. Saat itu juga keluarlah dokter dari pintu bangsal 16.

“Bagaimana keadaan kakak saya, Dok?” tanyaku.

“Kecelakaan yang terjadi pada kakak anda membuatnya mengeluarkan banyak darah. Dan sekarang ini kami kehabisan darah bergolongan AB. Mungkin anggota keluarga anda ada yang bergolongan darah seperti kakak anda,” kata dokter.

“Tentu saja ada.” Segera kukeluarkan handphone dan kutelpon ibu di rumah.

Tak berapa lama ibu datang bersama adiknya. Ia segera menjalani pemeriksaan dan diambil darahnya.

Aku tetap duduk di luar bangsal 16 saat dokter mentransfusikan darah pada kakakku di ruang perawatan. Aku tak berani mengintip ataupun berada di dekat ruang perawatan. Sejak ayah meninggal, aku trauma dengan ruang perawatan di rumah sakit.

Sesekali kulirik gadis kecil di bangsal 15. Ia masih saja memperhatikanku. Di tangannya terdapat selang infus.

Setelah satu jam menunggu, akhirnya kakakku dipindahkan ke bangsal lagi. Saat aku masuk, perlahan kakak mulai membuka mata dan seketika dia dikerubungi oleh saudara-saudaraku yang baru saja datang. Kakak hanya tersenyum memandangi kerumunan orang itu. Dan tiba-tiba kepala kakak sedikit terangkat. Ia seperti kehabisan napas. Seketika dia menjadi lemas dan matanya secara perlahan menutup.

Ibu yang sejak tadi gelisah, berteriak-teriak memanggil dokter. Dokter segera datang dan menyuruh semua orang yang berada di ruangan kecil itu untuk keluar. Dari semua orang yang berada di ruangan itu, aku adalah yang pertama keluar. Sejak tadi firasat buruk bergejolak dalam otakku. Sekali lagi kulirik gadis kecil misterius itu melalui pintu bangsal 15 yang terbuka. Baru aku sadari bahwa wajahnya berubah pucat. Dan dia tetap tak memalingkan wajah dariku. Tak lama kemudian dokter keluar dari bangsal dengan wajah penuh penyesalan.

“Kami sudah melakukan semaksimal yang kami bisa. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain,” kata dokter menyesal.

Kata terakhir dokter diiringi gelak tangis ibu. Dia segera masuk ke bangsal dan memeluk jasad kakak. Aku tetap berada di luar bangsal, tak berani masuk. Sebelumnya sudah terlintas kejadian seperti ini di otakku. Dan ternyata memang benar terjadi. Aku kaget saat melihat gadis kecil yang sepanjang waktu hanya memandangiku sudah tak ada di atas ranjangnya. Kemana dia pergi? Sudahlah, aku tak peduli.

Tiga hari setelah aku sibuk dengan acara pemakaman kakak, aku kembali ke rumah sakit untuk menjenguk temanku. Dari kejauhan, gadis kecil yang kulihat tempo hari duduk di luar ruang ICU. Ia tengah memandangi lelaki paruh baya yang berdiri dengan gelisah di dekatnya. Sesekali lelaki itu mengintip lewat kaca kecil di pintu.

Aku sembunyi di balik tembok dan terus memperhatikan gadis kecil dan lelaki itu. Lama sekali aku menunggu. Tetap  saja pemandangan itu belum berubah. Aku sempat putus asa dan memutuskan untuk pulang. Namun, tak lama kemudian dokter keluar dan berkata pada pada lelaki itu. Tampak sekali raut wajahnya berubah kaget dan sedih. Air matanya mulai meleleh. Lalu mereka berdua masuk ke ruang ICU.

Aku semakin bersemangat menyaksikan keadaan seperti ini. Tiba-tiba dari belakang seseorang menepuk pundakku. Aku terperanjat.

“Arya! Ngapain kamu di sini?” tanya orang yang hampir membuat jantungku tak berfungsi lagi. Ternyata dia Aryn temanku sekolah.

“Aku baru saja menjenguk Radit,” jawabku.

“Oh, aku juga mau menjenguk dia. Di mana bangsalnya?” tanya Aryn.

“Bangsal Anggrek nomor 17.”

“Kalau begitu, aku kesana dulu, ya. Bye.”

“Bye.”

Saat aku kembali pada pemandangan yang kulihat tadi, aku baru sadar kalau gadis kecil itu sudah tak duduk lagi di luar ruang ICU. Kemana anak itu? Kutengok kanan dan kiri. Tak ada tanda-tanda keberadaannya. Kejadian ini mirip sekali dengan kejadian saat kakak meninggal. Siapakah gerangan gadis kecil itu? Kenapa dia selalu ada saat keadaan seperti ini? Lalu kenapa dia selalu memandangi orang lain yang berada di luar ruangan perawatan di rumah sakit?

Pertanyaan itu terus berkecimpung dalam otakku. Dalam perjalanan pulang, aku terus mengingat-ingat kejadian ini dan kejadian tempo hari. Sesampainya di rumah aku sudah bisa memecahkan teka-teki ini. Aku mulai menyusun hipotesis.

Dua bulan kemudian aku dan Dika, temanku, pergi ke toko buku. Pulangnya kami duduk di halte menunggu bis. Di ujung kursi kulihat gadis kecil yang membuatku penasaran saat berada di rumah sakit tengah memandangi jalan yang ramai. Kenapa dia ada di sini? Bukankah seharusnya di ada di rumah sakit? Atau, mungkin dia selalu ada dimana-mana, tidak hanya di rumah sakit.

“Arya, coba lihat gadis kecil di ujung kursi itu. Kenapa dari tadi dia melihatku?” tanya Dika tak berapa lama kemudian. “Apakah dia belum pernah melihat lelaki setampan aku?” Dika tertawa

Kutengok gadis kecil itu. Dia menatap Dika tajam. Tak terasa air mataku meleleh.

“Dik, maaf kalau aku banyak membuat salah padamu. Mungkin setelah ini kamu tak akan melihatku lagi,” kataku dengan suara bergetar.

“Kamu ngomong apaan sih?” tanya Dika bingung.

“Lihat anak itu. Dia adalah jelmaan malaikat pencabut nyawa. Dia tengah memberitahumu bahwa orang yang berada di dekatmu akan mati. Dan orang yang berada di dekatmu saat ini adalah aku,” kataku masih dengan suara bergetar.

“Kamu terlalu banyak berkhayal, Ya. Itu hanya ketakutanmu,” kata Dika tak percaya.

Aku menundukkan kepala sambil mengusap air mataku. Aku pasrah jika memang ini adalah hari terakhirku menghirup napas.

“Arya, lihat di seberang jalan ada penjual siomay,” kata Dika mencoba mengalihkan perhatianku.

Dika segera berlari menyeberang jalan. Dia tidak tahu dari arah selatan mobil melaju dengan kencang. Aku segera berlari menyusulnya dan mendorongnya ke depan menghindari mobil itu. Namun, aku sendiri tidak sempat menyelamatkan diri. Aku masih merasakan mobil itu menerjangku. Dan setelah itu aku tak merasakan apa-apa lagi.

***

Kamis, 07 Januari 2010

Owl City - Fireflies

You would not believe your eyes
If ten million fireflies
Lit up the world as I fell asleep
Cause they fill the open air

And leave teardrops everywhere

You think me rude, but I would just stand and stare

I’d like to make myself believe
That planet earth turns slowly
It’s hard to say that I’d rather stay awake when I’m asleep
Cause everything is never as it seems

Cause I get a thousand hugs
From ten thousand lightning bugs
As they try to teach me how to dance
A foxtrot above my head
A sockhop beneath my bed
The disco ball is just hanging by a thread (thread, thread)

I’d like to make myself believe
That planet earth turns slowly
It’s hard to say that I’d rather stay awake when I’m asleep
Cause everything is never as it seems (when I fall asleep)

Leave my door open just a crack
(Please take me away from here)
Cause I feel like such an insomniac
(Please take me away from here)
Why do I tire of counting sheep?
(Please take me away from here)
When I’m far to tired to fall asleep

To ten million fireflies
I’m weird cause I hate goodbyes
I got misty eyes as they said farewell (said farewell)
But I know where several are
If my dreams get real bizarre
Cause I saved a few and I keep ‘em in a jar

I’d like to make myself believe
That planet earth turns slowly
It’s hard to say that I’d rather stay awake when I’m asleep
Cause everything is never as it seems (when I fall asleep)

I’d like to make myself believe
That planet earth turns slowly
It’s hard to say that I’d rather stay awake when I’m asleep
Cause everything is never as it seems (when I fall asleep)

I’d like to make myself believe
That planet earth turns slowly
It’s hard to say that I’d rather stay awake when I’m asleep
Because my dreams are bursting at the seams

David Archuleta - A Little Too Not Over You

(Eh eh eh oh eh eh eh
Eh eh eh oh eh eh eh)

It never crossed my mind at all
That's what I tell myself
What we had has come and gone
You're better off with someone else
It's for the best, I know it is
But I see you
Sometimes I try to hide
What I feel inside

And I turn around
You're with him now
I just can't figure it out

Tell me why
You're so hard to forget
Don't remind me
I'm not over it
Tell me why
I can't seem to face the truth
I'm just a little too not over you
(Eh eh eh oh eh eh eh)
Not over you
(Eh eh eh oh eh eh eh)

Memories
Supposed to fade
What's wrong with my heart?
Shake it off, let it go
Didn't think it be this hard
Should be strong
Moving on
But I see you
Sometimes I try to hide
What I feel inside

And I turn around
You're with him now
I just can't figure it out

Tell me why
You're so hard to forget
Don't remind me
I'm not over it
Tell me why
I can't seem to face the truth
I'm just a little too not over you

Maybe I regret
Everything I said
No way to take it all back, yeah
Now I'm on my own
How I let you go
I'll never understand
I'll never understand
Yeah, oooh, oooh, oooh
Oooooooh
Oh
Ooooh, oh

Tell me why
You're so hard to forget
Don't remind me
I'm not over it
Tell me why
I can't seem to face the truth
I'm just a little too not over you

Tell me why
You're so hard to forget
Don't remind me
I'm not over it
Tell me why
I can't seem to face the truth
And I really don't know what to do

I'm just a little too not over you
(Eh eh eh oh eh eh eh)
Not over you
(Eh eh eh oh eh eh eh)

Rabu, 19 Agustus 2009

Welcome To My Life

Hello...
Selamat datang di musium biografi seorang 'Siti Jauharoh Kartika Sari'.

Siti Jauharoh Kartika Sari yang biasa dipanggil sari or ayik or sayyik or suzik ini adalah seorang gadis berusia 15 tahun...
Untuk lebih lengkapnya, tunggu seminggu lagi...
OK????!!!!