Gadis kecil di bangsal 15 itu tak henti-hentinya mengamatiku lewat daun pintu di depannya. Sepertinya ada sesuatu yang lain dalam diriku. Kutengok sebentar sepatu, celana dan kaos yang kukenakan. Tak ada yang aneh. Semakin lama, semakin lekat dia memandangiku. Aku yang berdiri di depan pintu bangsal 16 semakin risih dibuatnya. Kualihkan pandanganku. Saat itu juga keluarlah dokter dari pintu bangsal 16.
“Bagaimana keadaan kakak saya, Dok?” tanyaku.
“Kecelakaan yang terjadi pada kakak anda membuatnya mengeluarkan banyak darah. Dan sekarang ini kami kehabisan darah bergolongan AB. Mungkin anggota keluarga anda ada yang bergolongan darah seperti kakak anda,” kata dokter.
“Tentu saja ada.” Segera kukeluarkan handphone dan kutelpon ibu di rumah.
Tak berapa lama ibu datang bersama adiknya. Ia segera menjalani pemeriksaan dan diambil darahnya.
Aku tetap duduk di luar bangsal 16 saat dokter mentransfusikan darah pada kakakku di ruang perawatan. Aku tak berani mengintip ataupun berada di dekat ruang perawatan. Sejak ayah meninggal, aku trauma dengan ruang perawatan di rumah sakit.
Sesekali kulirik gadis kecil di bangsal 15. Ia masih saja memperhatikanku. Di tangannya terdapat selang infus.
Setelah satu jam menunggu, akhirnya kakakku dipindahkan ke bangsal lagi. Saat aku masuk, perlahan kakak mulai membuka mata dan seketika dia dikerubungi oleh saudara-saudaraku yang baru saja datang. Kakak hanya tersenyum memandangi kerumunan orang itu. Dan tiba-tiba kepala kakak sedikit terangkat. Ia seperti kehabisan napas. Seketika dia menjadi lemas dan matanya secara perlahan menutup.
Ibu yang sejak tadi gelisah, berteriak-teriak memanggil dokter. Dokter segera datang dan menyuruh semua orang yang berada di ruangan kecil itu untuk keluar. Dari semua orang yang berada di ruangan itu, aku adalah yang pertama keluar. Sejak tadi firasat buruk bergejolak dalam otakku. Sekali lagi kulirik gadis kecil misterius itu melalui pintu bangsal 15 yang terbuka. Baru aku sadari bahwa wajahnya berubah pucat. Dan dia tetap tak memalingkan wajah dariku. Tak lama kemudian dokter keluar dari bangsal dengan wajah penuh penyesalan.
“Kami sudah melakukan semaksimal yang kami bisa. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain,” kata dokter menyesal.
Kata terakhir dokter diiringi gelak tangis ibu. Dia segera masuk ke bangsal dan memeluk jasad kakak. Aku tetap berada di luar bangsal, tak berani masuk. Sebelumnya sudah terlintas kejadian seperti ini di otakku. Dan ternyata memang benar terjadi. Aku kaget saat melihat gadis kecil yang sepanjang waktu hanya memandangiku sudah tak ada di atas ranjangnya. Kemana dia pergi? Sudahlah, aku tak peduli.
Tiga hari setelah aku sibuk dengan acara pemakaman kakak, aku kembali ke rumah sakit untuk menjenguk temanku. Dari kejauhan, gadis kecil yang kulihat tempo hari duduk di luar ruang ICU. Ia tengah memandangi lelaki paruh baya yang berdiri dengan gelisah di dekatnya. Sesekali lelaki itu mengintip lewat kaca kecil di pintu.
Aku sembunyi di balik tembok dan terus memperhatikan gadis kecil dan lelaki itu. Lama sekali aku menunggu. Tetap saja pemandangan itu belum berubah. Aku sempat putus asa dan memutuskan untuk pulang. Namun, tak lama kemudian dokter keluar dan berkata pada pada lelaki itu. Tampak sekali raut wajahnya berubah kaget dan sedih. Air matanya mulai meleleh. Lalu mereka berdua masuk ke ruang ICU.
Aku semakin bersemangat menyaksikan keadaan seperti ini. Tiba-tiba dari belakang seseorang menepuk pundakku. Aku terperanjat.
“Arya! Ngapain kamu di sini?” tanya orang yang hampir membuat jantungku tak berfungsi lagi. Ternyata dia Aryn temanku sekolah.
“Aku baru saja menjenguk Radit,” jawabku.
“Oh, aku juga mau menjenguk dia. Di mana bangsalnya?” tanya Aryn.
“Bangsal Anggrek nomor 17.”
“Kalau begitu, aku kesana dulu, ya. Bye.”
“Bye.”
Saat aku kembali pada pemandangan yang kulihat tadi, aku baru sadar kalau gadis kecil itu sudah tak duduk lagi di luar ruang ICU. Kemana anak itu? Kutengok kanan dan kiri. Tak ada tanda-tanda keberadaannya. Kejadian ini mirip sekali dengan kejadian saat kakak meninggal. Siapakah gerangan gadis kecil itu? Kenapa dia selalu ada saat keadaan seperti ini? Lalu kenapa dia selalu memandangi orang lain yang berada di luar ruangan perawatan di rumah sakit?
Pertanyaan itu terus berkecimpung dalam otakku. Dalam perjalanan pulang, aku terus mengingat-ingat kejadian ini dan kejadian tempo hari. Sesampainya di rumah aku sudah bisa memecahkan teka-teki ini. Aku mulai menyusun hipotesis.
Dua bulan kemudian aku dan Dika, temanku, pergi ke toko buku. Pulangnya kami duduk di halte menunggu bis. Di ujung kursi kulihat gadis kecil yang membuatku penasaran saat berada di rumah sakit tengah memandangi jalan yang ramai. Kenapa dia ada di sini? Bukankah seharusnya di ada di rumah sakit? Atau, mungkin dia selalu ada dimana-mana, tidak hanya di rumah sakit.
“Arya, coba lihat gadis kecil di ujung kursi itu. Kenapa dari tadi dia melihatku?” tanya Dika tak berapa lama kemudian. “Apakah dia belum pernah melihat lelaki setampan aku?” Dika tertawa
Kutengok gadis kecil itu. Dia menatap Dika tajam. Tak terasa air mataku meleleh.
“Dik, maaf kalau aku banyak membuat salah padamu. Mungkin setelah ini kamu tak akan melihatku lagi,” kataku dengan suara bergetar.
“Kamu ngomong apaan sih?” tanya Dika bingung.
“Lihat anak itu. Dia adalah jelmaan malaikat pencabut nyawa. Dia tengah memberitahumu bahwa orang yang berada di dekatmu akan mati. Dan orang yang berada di dekatmu saat ini adalah aku,” kataku masih dengan suara bergetar.
“Kamu terlalu banyak berkhayal, Ya. Itu hanya ketakutanmu,” kata Dika tak percaya.
Aku menundukkan kepala sambil mengusap air mataku. Aku pasrah jika memang ini adalah hari terakhirku menghirup napas.
“Arya, lihat di seberang jalan ada penjual siomay,” kata Dika mencoba mengalihkan perhatianku.
Dika segera berlari menyeberang jalan. Dia tidak tahu dari arah selatan mobil melaju dengan kencang. Aku segera berlari menyusulnya dan mendorongnya ke depan menghindari mobil itu. Namun, aku sendiri tidak sempat menyelamatkan diri. Aku masih merasakan mobil itu menerjangku. Dan setelah itu aku tak merasakan apa-apa lagi.